Pages

Subscribe:

jam

Pengikut

Sabtu, 29 Oktober 2011

pakaian adat papua

Pakaian Adat Papua
Avatar robby Diposting oleh robby |
Diajukan pada Sejarah Singkat

Pakaian adat pria dan wanita di Papua secara fisik mungkin anda akan berkesimpulan bahwa pakaian tersebut hampir sama bentuknya. Mereka memakai baju dan penutup badan bagian bawah dengan model yang sama. Mereka juga sama-sama memakai hiasan-hiasan yang sama, seperti hiasan kepala berupa burung cendrawasih, gelang, kalung, dan ikat pinggang dari manik-manik, serta rumbai-rumbai pada pergelangan kaki. Bentuk pakaian yang terlukis di sini merupakan ciptaan baru. Biasannya tak lupa dengan tombak/panah dan perisai yang dipegang mempelai laki-laki menambah kesan adat Papua.

Pakian Adat Papua
Foto Gallery
Video Gallery


Pakaian Adat Papua

Pakaian Adat Papua

Papua adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur West New Guinea (Irian Jaya). Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini atau East New Guinea. Burung endemik Tanah Papua

Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua bagian barat, sehingga sering disebut sebagai Papua Barat terutama oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM), gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia dan membentuk negara sendiri. Pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, wilayah ini dikenal sebagai Nugini Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Guinea). Setelah berada bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia Indonesia, wilayah ini dikenal sebagai Provinsi Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973. Namanya kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002.

pakaian adat batak

Pakaian Adat Simalungun

Sama seperti suku-suku lain di sekitarnya, pakaian adat suku Simalungun tidak terlepas dari penggunaan kain Ulos (disebut Uis di suku Karo). Kekhasan pada suku Simalungun adalah pada kain khas serupa Ulos yang disebut Hiou dengan berbagai ornamennya. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat, dipercaya mengandung “kekuatan” yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak, memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar, Muangthai dan Laos, khususnya pada ikat kepala, kain dan ulosnya.

Secara legenda ulos dianggap sebagai salah satu dari 3 sumber kehangatan bagi manusia (selain Api dan Matahari), namun dipandang sebagai sumber kehangatan yang paling nyaman karena bisa digunakan kapan saja (tidak seperti matahari, dan tidak dapat membakar (seperti api). Seperti suku lain di rumpun Batak, Simalungun memiliki kebiasaan mangulosi (memberikan ulos) yang salah satunya melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima ulos.

Ulos dapat dikenakan dalam berbagai bentuk, sebagai kain penutup kepala, penutup badan bagian bawah, penutup badan bagian atas, penutup punggung dan lain-lain. Ulos dalam berbagai bentuk dan corak/motif memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda, misalnya ulos penutup kepala wanita disebut suri-suri, ulos penutup badan bagian bawah bagi wanita disebut ragipane, atau yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari yang disebut jabit. Ulos dalam pakaian penganti Simalungun juga melambangkan kekerabatan Simalungun yang disebut Dalihan Natolu, yang terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (sarung).

Menurut Muhar Omtatok, Budayawan Simalungun, awalnya Gotong (Penutup Kepala Pria Simalungun) berbentuk destar dari bahan kain gelap ( Berwarna putih untuk upacara kemalangan, disebut Gotong Porsa), namun kemudian Tuan Bandaralam Purba Tambak dari Dolog Silou juga menggemari trend penutup kepala ala melayu berbentuk tengkuluk dari bahan batik, dari kegemaran pemegang Pustaha Bandar Hanopan inilah, kemudian Orang Simalungun dewasa ini suka memakai Gotong berbentuk Tengkuluk Batik.

Kamis, 27 Oktober 2011

Mempelai Kenakan Pakaian Warisan Sultan HB VII
Aloysius Budi Kurniawan | Agus Mulyadi | Kamis, 13 Oktober 2011 | 22:14 WIB
Dibaca: 33716
|
Share:
Kompas/Aloysius Budi Kurniawan Pasangan calon pengantin KPH Yudanegara (Achmad Ubaidillah) dengan GKR Bendara (Jeng Reni).
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Putri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu Bendara, dan pasangannya, Achmad Ubaidillah alias Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara, akan mengenakan perhiasan warisan Sultan Hamengku Buwono VII pada upacara adat panggih serta resepsi pernikahan, Selasa (18/10/2011).
Kedua mempelai juga akan memakai kain batik bermotif semen rojo yang merupakan warisan turun-temurun Keraton Yogyakarta. Seluruh ritual dalam pernikahan ini akan dijalankan sesuai pakem atau tata aturan warisan keraton.
Dua hari sebelum rangkaian ritual pernikahan dimulai, seluruh perhiasan dan busana pengantin telah siap. Bahkan, sebanyak 18 perias yang dipimpin perias pengantin tradisional kondang, Tienuk Riefki, telah hadir di Keraton Kilen, Yogyakarta.
"Kedua pengantin akan mengenakan perhiasan keraton yang menjadi warisan turun-temurun sejak zaman Sultan HB VII. Ini merupakan perhiasan keramat Keraton Yogyakarta. Pakaian keduanya dirancang persis dengan model pakaian pernikahan keraton di era Sultan HB VII," kata Tienuk, saat mempersiapkan perlengkapan baju dan rias pengantin, Kamis (13/10/2011) di Keraton Kilen, Yogyakarta.
Dalam upacara adat panggih, kirab, dan resepsi, pengantin putri akan mengenakan perhiasan keramat keraton yang dinamakan rojo keputren, mulai dari cundhuk menthul, pethat gunungan, penthung, subang royok, sangsangan sungsum, gelang kono, dan slepe. pengantin putra akan menggunakan sumping ron mangkoro, pethat menthul satu, dan karset.
"Sejak awal, GKR Bendara menginginkan upacara pernikahan dilakukan sesuai adat keraton yang dahulu dilakukan. Upacara yang dipilih akhirnya tata upacara adat keraton pada zaman Sultan HB VII karena dokumentasi ritual serta perlengkapan pernikahan pada periode ini masih ada," kata Tienuk.
Mulai 16 Oktober sampai 19 Oktober 2011, ritual pernikahan akan dimulai dengan upacara nyantri (16 Oktober), kemudian siraman (17 Oktober), lalu akad nikah, upacara panggih, kirab pengantin, dan resepsi (18 Oktober), kemudian terakhir upacara pamitan (19 Oktober).
Dari berbagai upacara itu, upacara yang dikhususkan bagi masyarakat umum Yogyakarta adalah kirab pengantin dari Keraton Yogyakarta menuju Kepatihan (Kantor Gubernur DIY).
Kirab pengantin yang awalnya direncanakan menggunakan Kyai Jatayu, akhirnya diganti menggunakan Kyai Jong Wiyat. Bentuk kereta Kyai Jong Wiyat yang lebih terbuka, memudahkan masyarakat umum untuk melihat langsung kedua pengantin dibandingkan dengan kereta Kyai Jatayu yang agak tertutup.
Selama ritual pernikahan, kedua mempelai akan dirias dengan berbagai macam model, antara lain tata rias pengantin Yogyakarta paes ageng (saat upacara panggih), tata rias paes ageng jangan menir dengan kebaya warna merah maron (saat kirab), dan tata rias pengantin Yogyakarta paes ageng jangan menir dengan kebaya warna hitam blenggen burdiran (saat resepsi). Pada saat resepsi, pengantin pria akan mengenakan busana sikepan burdiran warna hitam.
Pernikahan GKR Bendara dan KPH Yudanegara melibatkan 18 perias, terdiri atas 14 perias putri dan 4 perias laki-laki. Para perias ini sudah siap di Keraton Yogyakarta sejak dua hari sebelum pernikahan.
Duplikat batik keraton
Khusus untuk penyediaan kain batik bagian luar atau dhodhotan untuk keperluan tata rias paes ageng, permaisuri  GKR Hemas memesan batik tulis dari perancang busana sekaligus pembatik Afif Syakur. "Saya diminta GKR Hemas untuk membuat duplikat kain batik motif semen rojo, yang merupakan warisan Keraton Yogyakarta turun-temurun yang khusus digunakan untuk upacara pernikahan," kata Afif.
Pembuatan batik semen rojo membutuhkan waktu 9 bulan, dengan warna tunggal biru tua berhiaskan prada emas. Pembuatan kain batik ini relatif sulit karena bermotif rumit sekaligus berukuran lebar. Kain batik untuk pengantin putri berukuran 2 meter x 4,5 meter dan pengantin putra 2,5 meter x 4,5 meter.
"Sama seperti batik-batik keraton lainnya, motif batik ini berisikan doa-doa dan harapan-harapan. Kain batik semen rojo memiliki gambar yang berisi konsep tentang kehidupan manusia, seperti kelahiran, keharmonisan kehidupan manusia, hingga bagaimana menjadi pemimpin yang bijak," papar Tienuk.

pakaian adat jepang

Yukata adalah jenis kimono nonformal Jepang yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis. Secara harfiah istilah Yukata berarti: baju sesudah mandi. Dipakai untuk kesempatan santai di musim panas (natsu). Yukata dibuat dari bahan katun yang mudah dilewati angin, agar badan menjadi sejuk di sore hari atau sesudah mandi malam dengan air panas di Jepang.
Istilah Yukata ini lahir sejak sekitar zaman Azuchi-Momoyama. Bermula dari pakaian yang dipakai sesudah mandi yang disebut Yukatabira. Di zaman Edo, Yukatabira menjadi sangat populer di kalangan rakyat dan namanya disingkat menjadi Yukata saja. Pada zaman dahulu, memakai Yukata untuk bertemu dengan orang lain dianggap sangat tidak sopan, mengingat fungsi Yukata yang cuma sebagai pakaian tidur. Namun sekarang, Yukata dapat dikenakan kapanpun atau saat pergi kemanapun. Malah pakaian ini menjadi pakaian utama yang dikenakan saat melihat Hanabi Matsuri (Festival kembang api). Jika terlihat banyak perempuan memakai Yukata di musim panas (natsu), berarti tidak jauh dari tempat itu ada festival kembang api.
Yukata umumnya dibuat dari kain katun walaupun sekarang banyak yang dibuat dari bahan campuran, misalnya katun bercampur polyester. Yukata untuk laki-laki biasanya terbuat dari bahan dengan warna dasar gelap (seperti hitam, biru tua, ungu tua) dengan corak garis-garis warna gelap. Sedangkan Yukata untuk wanita biasanya terbuat dari bahan dengan warna dasar cerah atau warna pastel dengan corak beraneka warna yang cerah. Corak-corak kain yang populer untuk Yukata wanita adalah bunga Sakura, bunga Krisan, Poppy, bunga-bunga yang mekar di musim panas.

Perbedaan Kimono dan Yukata:

1.   Berbeda dengan Kimono yang sering disebut orang Jepang sebagai Gofuku atau Wafuku dan hanya dipakai pada kesempatan formal, Yukata dipakai untuk kesempatan santai seperti: berjalan-jalan melihat pesta kembang api, melihat festival musim panas (matsuri), atau menari di saat perayaan Obon (festival menyambut arwah).
2.   Kimono yang harganya sangat mahal hingga luar biasa mahal, harga Yukata umumnya terjangkau oleh semua orang.
3.   Kimono jadi yang hampir-hampir tidak ada toko yang mau menjualnya, di toko pakaian banyak dijual Yukata yang sudah jadi dengan beraneka ukuran dengan harga terjangkau
4.   Kimono yang menurut ukuran lebar lengannya dapat diketahui status seorang wanita (sudah menikah atau masih gadis), Yukata dapat dipakai oleh siapa saja tanpa mengenal status.
5.   Kimono yang pemakainya diwajibkan memakai pakaian dalam sebanyak 2 lapis (Hadajuban dan Juban), perempuan yang memakai Yukata hanya diharuskan pakaian dalam lapis pertama (Hadajuban).

Sama halnya dengan Kimono, agar Yukata terlihat bagus sewaktu dipakai, maka yang dipakai haruslah Yukata yang sesuai ukuran badan si pemakai. Jika Yukata yang anda kenakan ingin terlihat bagus dan pas di badan, Yukata yang anda kenakan haruslah Yukata yang dijahit sesuai dengan ukuran badan anda (order made).

Urutan agar pemakaian Yukata tampak bagus dan rapi:

1. Jika ingin mengenakan Yukata secara benar, dianjurkan untuk mengenakan Susoyoke, yakni berupa rok dalam panjang yang bisa berwarna putih polos atau bercorak dengan warna cerah. Jika tidak mau memakai atau tidak mempunyai Susoyoke juga tidak apa-apa.
2. Memakai pakaian dalam yang disebut Hadajuban dan mengencangkan tali pengikatnya.
3. Memakai Yukata. Panjang Yukata selalu melebihi panjang yang dibutuhkan si pemakai sehingga kain Yukata yang panjangnya berlebih harus diangkat sedikit ke bagian pinggang dan dikencangkan dengan menggunakan Koshihimo (sabuk pinggang dari kain)
4.   Merapikan Bagian-bagian Yukata yang sedikit longgar di badan ke arah perut dan
    mengencangkannya dengan kain sabuk pengikat yang disebut Datejime
5.  Mengencangkan Yukata dengan melilitkan dan mengikatkan Obi.

Obi adalah kain yang dililitkan di pinggang, yang panjangnya sekitar 4 sampai 5 meter. Lebar Obi yang digunakan untuk Yukata adalah setengah dari lebar Obi yang digunakan untuk memakai Kimono. Ada banyak jenis simpul yang digunakan untuk pada saat mengikat Obi. Simpul Obi yang paling populer adalah simpul Bunko yang berbentuk seperti kupu-kupu. Jika belum dapat membuat simpul Obi sendiri, anda dapat membeli simpul Obi yang sudah jadi di toko dan tinggal menyisipkannya ke dalam Obi anda.
Yukata juga digunakan oleh aktor Kabuki di saat bermake-up atau peran yang mengharuskan aktor Kabuki memakai Yukata. Pegulat Sumo juga memakai Yukata sebelum dan sesudah bertanding. Begitupula penari tradisional Jepang (Nihon Buyou) mengenakan Yukata sebagai pengganti Kimono sewaktu belajar menari agar Kimono yang harganya mahal tidak menjadi basah karena keringat.
Saat ini, toko-toko di Jepang sudah mulai terlihat memajang beberapa Yukata dengan aneka corak warna dengan harga terjangkau. Tanda musim panas segera tiba.

berbagai macam pakaian adat dri seluruh provinsi di belanda

BUSANA TRADISIONAL DARI SELURUH PROPINSI DI BELANDA



Axel adalah sebuah desa di provinsi Zeeland dekat perbatasan Belgia. Drenthe, provinsi bersepeda “,” memiliki jalur sepeda lebih banyak daripada tempat lain di Belanda. Friesland, di sudut barat laut, memiliki reputasi sebagai separatis dan bangga, berbicara bahasa mereka sendiri.
Gelderland, provinsi terbesar di Belanda, memiliki tiga daerah yang berbeda dengan topografi bervariasi. Groningen, paling utara, terkenal dengan indah gereja-gereja tua tersebut. Hindeloopen, sebuah kota pantai kecil, dikenal dengan pelaut dan rakyat lukisan yang penuh warna.
Marken, sebuah desa nelayan timur laut Amsterdam, pernah sebuah pulau. Pria muda sekali diukir sepatu kayu untuk mereka brides-to-be, bukan memberi mereka cincin. Beveland Selatan pernah sebuah pulau terisolasi namun kini dihubungkan oleh sebuah bendungan.  Kedua versi Katolik dan Protestan dari kostum rakyat terwakili di dalam masyarakat. Staphorst terkenal untuk orang-orang mengenakan pakaian tradisional.Selain itu, salah satu kota yang paling religius Belanda, dengan banyak orang datang Calvinis gereja. Staphorst is said to grind to a halt on Sundays. Staphorst dikatakan untuk menggiling berhenti pada hari Minggu.
Terschelling adalah salah satu dari lima utara Kepulauan’s Waden dari daratan Belanda. Twente, timur Amsterdam, terkenal dengan padang rumput yang dipisahkan dengan dinding dari kayu. Volendam, sebuah desa Katolik di utara, termasuk topi menunjuk kostum tradisional, mungkin yang paling sering dikenal sebagai gaya Belanda.
Walcheren dikenal sebagai “Flower Garden” dari Zeeland. Zaan adalah di Sungai Zaan, yang membentang utara Amsterdam ke Laut Utara.

kumpulan gambar pakaian adat indonesia

MINANGKABAU

BALI

SUNDA

SOLO

JOGJA

ACEH

LAMPUNG

PADANG

SUMBA

PALEMBANG

BETAWI

PAPUA

GORONTALO

BENGKULU

BATAK

YOGYAKARTA

JAKARTA

KUPANG

JAWA

BUGIS

pakaian adat melayu,riau

Berikut beberapa foto pakaian atau baju adat, tradisional daerah Riau. Pakain Adat Melayu Riau ini adalah pakaian tradisional Riau, walaupun ada beberapa macam-macam namun hanya satu pakaian adat untuk daerah Riau, yaitu Pakaian Adat Melayu Riau.


- Gambar Pakaian Adat, Tradisional Melayu Indragiri Riau


- Foto / Gambar Baju Adat Melayu Bengkalis Riau

- Gambar / Foto Baju Adat, Tradisional Melayu Siak Riau
Pakaian Adat Melayu Riau


Jika ada kesalahan dalam penyebutan peletakan foto atau gambar pakain adat, tradisional Riau diatas, mohon diperbaiki. Gambar Pakaian, Baju Adat Riau, dipersembahkan oleh: PekanbaruRiau.Com